Kemuliaan dan penderitaan si “Beruang Besar”

0 131

Perjalanan hidup Jesse Lauriston Livermore yang lahir di tahun 1877, telah menjadi panduan untuk mengatasi kesulitan bagi para trader semua generasi. Ia mengawali perjalanan menuju sukses dengan melarikan diri dari rumah ayahnya, kemudian menjadi penguasa tak resmi Wall Street.

Kisahnya membuat kita takjub akan hasrat meraih sukses yang tak terpadamkan dan kesediaannya mengorbankan apapun untuk mencapai tujuan. Kalau Anda butuh idola dunia trading, itulah Jesse Livermore.

 

Awalnya petani, lalu jadi broker


 

Jesse meninggalkan kampung halamannya Shrewsbury, Massachusets sejak usia 14 tahun. Saat itu ia telah menguasai program matematika yang seharusnya dijalani dalam waktu tiga tahun hanya dalam satu tahun saja. Namun satu-satunya pilihan yang tersedia untuk Livermore adalah bekerja di perkebunan milik keluarga. Tentunya, pilihan itu tidak sesuai untuk si calon jenius sama sekali.

Livermore muda pergi menuju Boston. Ia mulai bekerja sebagai juru tulis di sebuah kantor jual beli semi ofisial. Tugasnya adalah mencatat data saham dari telegraf pada sebuah papan tulis.

 

Profit pertama


 

Jesse muda segera menemukan kenyamanan di dunia spekulasi dan transaksi. Secara terang-terangan ia mengatakan, sejak awal ia telah mengetahui pola tertentu dalam trading. Livermore menguji hasil observasinya di sela-sela istirahat makan siang di kantor tetangga.

Pembelian saham pertamanya sebesar 5 dolar menghasilkan profit untuknya sebesar 3,12 dolar. Di usia 15 tahun, Jesse meraup ribuan dolar pertamanya yang selanjutnya diberikan pada ibunya tanpa menceritakan bagaimana ia bisa memperolehnya.

 

Menaklukkan New York


 

Setelah berhasil mengumpulkan modal dalam jumlah luar biasa di usia 20 tahun, Livermore bermaksud menaklukkan New York. Namun, kenyataan berjalan tidak semulus keinginannya. Bekerja di kantor sekuritas kecil dan trading di bursa saham ternyata adalah dua aktivitas yang jauh berbeda.

Jesse si Bocah Ajaib kehilangan uangnya. Ia rugi banyak sekali. Bid (penawaran) Livermore dieksekusi oleh broker dengan perbedaan waktu yang tidak beraturan. Akibatnya, ia mengalami kerugian 50 ribu dolar (atau 1,5 juta dolar untuk ukuran saat ini). Ia pun tidak punya apa-apa, lalu kembali ke Boston untuk mulai dari nol lagi.

 

Menuju kejayaan


 

Meski demikian, di tahun 1906 ia meraih kemasyuran di dunia trading. Awalnya, intuisi mendorongnya untuk menjual saham Union Pacific.

Semua temannya bilang ia sinting. Akan tetapi, sehari kemudian dunia dikejutkan oleh gempa bumi San Fransisco yang merenggut nyawa ribuan orang dan meruntuhkan pasar West Coast (Pesisir Timur). Inilah awal bagaimana Livermore meraup 250 ribu dolar.

Pada Oktober 1907, Jesse masuk kembali ke pasar dan menambah bebah hutang para pelaku utamanya. Indeks Dow Jones jatuh sampai 50%. Sebuah delegasi para pengusaha dan bankir New York mendatanginya dan meminta Livermore untuk berhenti menjual saham. Bila tidak, maka pasar saham akan kolaps.

Jesse mendengarkan permintaan mereka dan mulai membuka posisi-posisi panjang pada 24 Oktober. Asal tahu saja, sebelum itu ia telah berhasil lebih dari satu juta dolar.

 

“Tahun 20-an yang Gemilang”


 

Kebangkrutan keduanya terjadi tak lama setelahnya. Ini terjadi akibat kegagalan investasi di bidang katun, yang lebih tepatnya diakibatkan oleh pengkhianatan seorang teman. Seorang trader katun ternama Teddy Price menyalahi kepercayaan Jesse. Secara halus, Price memberikan nasihat yang keliru.

Meski demikian, ia merayakan akhir 1920-an dengan keberhasilan dalam penjualan saham. Masyarakat menikmati hidup sambil mendengarkan lantunan foxtrot, semuanya bermimpi jadi trader sukses. Mengapa harus bekerja kalau kamu bisa jualan saham? Jesse Livermore menjadi pengejawantahan mimpi Amerika

 

Depresi Besar


 

Kejatuhan pasar saham di 1929 menandai dimulainya era Depresi Besar. (Great Depression), bukan hanya menghasilkan profit sebesar 100 juta dolar Amerika (1,5 bilyun dolar modern) buat Jesse. Fenomena ini membuat ia mendapat julukan “Beruang Besar” (Great Bear).

Sampai saat ini ada pendapat bahwa penjualan saham besar-besaran oleh Livermore adalah penyebab terjadinya periode paling menyedihkan dalam sejarah ekonomi Amerika Serikat.

Karir Livermore selanjutnya tidak terlalu gemilang. Ia semakin sering merugi, sedangkan di saat yang sama ia tetap bertahan dengan gaya hidup mewahnya.

Si jenius dunia trading adalah tamu terhormat di semua pesta dan tinggal di Sherry-Netherland, salah satu hotel terbaik di New York. Di hotel inilah ia menyatakan dirinya bangkrut dan mengakhiri nyawanya sendiri pada 28 November 1940.

 

Warisan Beruang Besar


 

Teknik trading yang dikembangkan Jesse Livermore saat ini masih relevan. Ia adalah orang pertama yang melakukan trading berdasarkan tren, level support dan resistance.

Petunjuk praktis untuk para trader bisa dibaca di buku populernya “How to trade in stocks”, yang diterbitkan tahun 1940-an dan buku biografi Livermore “Reminiscences of a Stock Operator” yang ditulis oleh Edwin Lefevre.

* * *

Di samping segala kekurangannya, Jesse Livermore selalu berusaha mewujudkan keinginan meraih sukses. Hasrat meraih sukses menyelamatkannya dari kesia-siaan dan membawanya menjadi si “Beruang Besar” Wall Street. Kami yakin bahwa setelah ratusan tahun berlalu, semangat Livermore masih menemani pada trader yang dahaga akan kesuksesan.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.