Analisa

Berita, Tren, & Analisa 26.02.2021

Dolar meluncur turun

Fokus hari ini adalah konsumen Jerman, kenaikan harga minyak, dan pernyataan the Fed tentang suku bunga.

 

Kalender

04.00 WIB

Anggaran Federal AS akan dirilis. Sebelumnya: -430 B. Bila anggaran lebih rendah dari sebelumnya, USD bisa memperoleh penyebab negatif.

Aset untuk bertransaksi: USD/CHF, USD/JPY, USD/NOK

 

Berita

Menteri perdagangan Inggris Liz Truzz Kamis lalu mengatakan ia mendesak untuk bertemu dengan kandidat Perwakilan Amerika Serikat Katherine Tai untuk membicarakan penghapusan tarif hukuman. Mempengaruhi GBP


Sentimen ekonomi zona euro di bulan Februari naik lebih tajam dari yang diperkirakan. Mempengaruhi EUR


Harga minyak memperpanjang kenaikan untuk sesi keempat Kamis lalu dan mencapai harga tertinggi dalam lebih dari 13 bulan. Mempengaruhi Brent


Indeks dolar turun kamis lalu, karena pasar mata uang dipicu oleh sinyal tidak menaikkan suku bunga dari Bank Sentral Federal AS. Mempengaruhi USD


Konsumen Jerman bergairah lebih dari yang diperkirakan mendekati bulan Maret karena para pembelanja di ekonomi terbesar Eropa lebih optimistis bahwa kuncitara untuk menahan pandemi COVID-19 bisa segera berakhir. Mempengaruhi EUR

 

Analisa Teknikal

USD/JPY

Dolar sedang naik turun belakangan ini. Di satu sisi harapan mata uang ini adalah rencana bantuan Presiden Biden dan insiatif untuk memperbarui negosiasi perdagangan. Sementara tersendatnya minyak mentah akibat musim dingin dan kemelut pandemi menekannya turun. Sementara berhadapan dengan penurunan di bidang perakitan mesin di Jepang akibat kelangkaan chip.

Pasangan mata uang ini mencapai harga tinggi dan bisa merosot turun dalam beberapa hari ke depan.

Perak

Tren untuk logam mulia ini adalah naik, tetapi harga mungkin menguji garis support arah naik.

FTSE 100

Tren naik saat ini kehilangan momentum karena sudah mendekati garis resistance turun.

Related posts
Analisa

Hong Kong Memanas Lagi 

Para demonstran kembali berkerumun akibat adanya pertemuan antara pemimpin Hong Kong Carrie Lam dan Xi Jinping.